Posts

Yogyakarta – Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Ahmad Dahlan angkatan 2023 dan 2024 menampilkan Drama Performance sebagai luaran mata kuliah Drama pada Minggu (11/1/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Laboratorium Bahasa A, Kampus 4 UAD.

Drama Performance ini diikuti oleh seluruh mahasiswa PBI angkatan 2023 dan 2024 yang terbagi ke dalam empat kelas. Setiap kelas menampilkan satu pementasan drama dengan cerita yang berbeda. Pementasan dilakukan secara berkelompok besar sebagai bentuk kolaborasi antarmahasiswa dalam satu kelas.

Mata kuliah Drama tersebut diampu oleh Arilia Triyoga, S.S., M.Pd.B.I. Arilia menjelaskan bahwa luaran mata kuliah Drama tidak hanya berupa pertunjukan, tetapi juga E-Book Antologi Drama ber-ISBN yang ditulis oleh mahasiswa.

Arilia Triyoga, S.S., M.Pd.B.I., selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Drama

“Bentuk luaran mata kuliah Drama ada dua, yaitu pertunjukan drama dan E-Book Antologi Drama ber-ISBN. Hal ini merupakan bagian dari penerapan Outcome Based Education (OBE), di mana mahasiswa dinilai apakah mereka mampu menulis kreatif atau tidak,” ujarnya.

Menurut Arilia, mahasiswa diwajibkan untuk terlibat langsung dalam pementasan guna melatih kemampuan improvisasi dan performatif. Melalui kegiatan tersebut, dosen dan program studi dapat melihat capaian pembelajaran mahasiswa secara lebih komprehensif.

Pada tahun ini, mata kuliah Drama menggandeng LSO HMPS PBI EDSA, yakni Keluarga Teater PeBei. Kerja sama ini bertujuan untuk memberikan pendampingan seni panggung agar proses pementasan berjalan lebih terarah.

“Betul, tahun ini mata kuliah Drama bekerja sama dengan Keluarga Teater PeBei. Saya melihat teman-teman di sana memiliki kapabilitas dalam seni panggung, sehingga diharapkan Drama Performance ini bisa lebih terarah dan target pembelajarannya tercapai,” jelas Arilia.

Arilia juga menyampaikan bahwa mata kuliah Drama dirancang untuk mengembangkan berbagai kompetensi mahasiswa dalam konteks pembelajaran Bahasa Inggris.

“Kompetensi yang ingin dicapai antara lain menulis kreatif melalui penulisan naskah drama, speaking skill, dan critical thinking. Mahasiswa juga harus mampu menyusun konsep pementasan, mulai dari alur cerita, properti, hingga aspek teknis lainnya,” tambahnya.

Perwakilan Keluarga Teater PeBei, Atas Sultan Joe Satriani, menjelaskan bahwa naskah yang dipentaskan merupakan hasil karya mahasiswa dari masing-masing kelas. Tim teater berperan dalam memberikan pendampingan selama proses penggarapan.

Mata Kuliah Drama yang Berkolaborasi dengan Keluarga Teater PeBei

“Pemilihan naskah berasal dari karya dan kreativitas mahasiswa. Kami membantu memberikan pertimbangan dan mentoring, terutama bagaimana naskah sastra divisualisasikan dari bentuk tulisan ke bentuk pertunjukan,” ujarnya.

Sementara itu, M. Ghoni Raihan menyebutkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi mahasiswa selama proses latihan adalah faktor kepercayaan diri dan kurangnya pengalaman berpentas.

“Tantangan terbesar ada pada kurangnya rasa percaya diri dan minimnya pemahaman tentang faktor-faktor pementasan, karena sebelumnya mereka hanya menulis naskah. Kendala tersebut kami atasi bersama melalui pemantik, evaluasi, serta penyesuaian aspek teknis ketika naskah akan ditampilkan,” jelasnya.

Dengan konsep pementasan berkelompok besar dan cerita yang berbeda di setiap kelas, Drama Performance ini menjadi ruang pembelajaran kolaboratif yang tidak hanya menekankan aspek teoretis, tetapi juga praktik berbahasa, kreativitas, dan seni pertunjukan secara kontekstual.

Yogyakarta — Tahun 2026 dibuka dengan kegiatan Seminar Penerjemahan yang diselenggarakan oleh Laboratorium Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Ahmad Dahlan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 7 Januari 2026, bertempat di Laboratorium Bahasa A, Kampus 4 UAD.

Seminar ini dihadiri oleh Ketua Program Studi PBI, dosen, mahasiswa PBI dan MPBI, serta peserta dari luar PBI UAD. Kegiatan dimoderatori oleh Ika Juni Astiti, mahasiswa PBI UAD, dan menghadirkan dua pemateri yang berpengalaman di bidang penerjemahan.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Program Studi PBI UAD, Sucipto, Ph.D., yang menyoroti relevansi isu kecerdasan buatan dalam dunia penerjemahan.

Sambutan Kaprodi PBI UAD, Sucipto, Ph.D.

“Penerjemahan saat ini sudah terintegrasi dengan kecerdasan buatan. Seminar ini membahas bagaimana bersikap bijak dalam bidang penerjemahan serta mendukung perluasan kompetensi mahasiswa, salah satunya di bidang translation,” ujarnya.

Pemateri pertama, Widiana Martiningsih, S.S., penerjemah bersertifikat HPI yang berfokus pada pelokalan gim dan teks umum, menekankan pentingnya kesadaran penerjemah pemula terhadap peran AI. Ia menjelaskan bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti penerjemah manusia, karena penerjemah tetap berperan penting dalam memahami konteks, budaya, dan etika penerjemahan.

Pemateri Pertama Seminar Penerjemahan

“Manusia dan AI sama-sama memiliki kelebihan dan keterbatasan dalam proses penerjemahan, sehingga keduanya perlu diposisikan secara proporsional,” ujarnya.

Pemateri kedua, Astry Fajria, S.S., M.Pd.B.I., dosen PBI UAD sekaligus penerjemah bersertifikat HPI, menyampaikan materi Becoming a Professional Translator. Ia membahas berbagai bidang kerja penerjemahan, perbedaan penerjemah lepas dan agensi, proses sertifikasi HPI, serta tantangan profesional di dunia penerjemahan. Astry juga menekankan pentingnya membaca, latihan berkelanjutan, keterlibatan komunitas, dan personal branding bagi calon penerjemah.

Pemateri Kedua Seminar Penerjemahan

“Disiplin membaca dan banyak berlatih merupakan fondasi utama yang perlu dibangun sejak awal bagi calon penerjemah profesional. Penerjemah perlu membangun profil profesional dan personal branding supaya bisa bersaing dengan penerjemah lainnya,” jelasnya.

Seminar ini diharapkan dapat menambah wawasan serta kesiapan mahasiswa dan peserta dalam menghadapi perkembangan dunia penerjemahan yang semakin dinamis di era teknologi.