Posts

Kaprodi PBI UAD Bekali Calon Alumni Jelang Wisuda

Yogyakarta – Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Pembekalan Calon Wisudawan/Wisudawati pada Rabu (29/7/2026). Kegiatan ini dilaksanakan setelah Pelepasan Calon Wisudawan dan Wisudawati Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 di Amphitarium, Kampus IV UAD.

Sebanyak 20 mahasiswa PBI UAD yang akan mengikuti wisuda pada 1 Agustus 2026 mengikuti kegiatan tersebut. Pembekalan disampaikan langsung oleh Ketua Program Studi PBI UAD, Sucipto, M.Pd.B.I., Ph.D.

Dalam pembekalannya, Sucipto memberikan semangat dan motivasi kepada para calon alumni agar memiliki rencana yang jelas setelah menyelesaikan studi. Ia menyampaikan bahwa sebagian mahasiswa yang akan diwisuda bahkan telah lebih dahulu memasuki dunia kerja. Karena itu, ia mendorong seluruh calon alumni untuk segera menentukan langkah berikutnya sesuai dengan tujuan masing-masing.

Kaprodi PBI UAD Bekali Calon Alumni Jelang Wisuda

“Setelah tanggal 1, kalian wisuda, kalian semua harus sudah ada rencana ke mana. Sudah ada kegiatan,” ujar Sucipto.

Sucipto juga memperkenalkan kiprah alumni PBI UAD yang telah sukses di berbagai bidang. Mulai dari mengikuti program Alumni Mengajar di Thailand (AMT), menjadi pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di China dan negara lainnya, hingga berkarier sebagai perwira TNI Angkatan Laut. Menurutnya, keberhasilan para alumni tersebut menunjukkan bahwa lulusan PBI UAD memiliki peluang karier yang luas.

Di akhir pembekalan, Sucipto mengingatkan para calon alumni agar selalu mengiringi setiap ikhtiar dengan kesabaran, ibadah, dan doa.

“Jadikan salat dan sabar sebagai penolongmu, dan jadikan doa sebagai senjatamu,” pesannya.

Baca juga: Dari Korea Selatan, Alumni PBI UAD Hadirkan Inspirasi Global di Guest Lecture

Kaprodi PBI UAD Bekali Calon Alumni Jelang Wisuda

Pembekalan ini diharapkan dapat memberikan bekal sekaligus motivasi kepada calon alumni PBI UAD untuk memasuki dunia kerja maupun melanjutkan studi dengan lebih percaya diri dan penuh perencanaan.

King dan Queen PBI UAD 2026/2027 Resmi Terpilih

Yogyakarta – Ahmed Rassel dan Ika Juni Astiti terpilih sebagai King dan Queen PBI UAD 2026/2027. Keduanya diumumkan dalam Closing Ceremony English Vaganza EDSA Championship (EVA ECHA) 2026 yang diselenggarakan HMPS PBI EDSA pada Minggu (26/7). Pemilihan tersebut diikuti enam kandidat yang bersaing melalui beberapa tahapan penilaian.

Enam mahasiswa menjadi kandidat King dan Queen PBI UAD 2026/2027. Mereka adalah Faradilla Noor Insani, Hana Lin Zakiyah, Ghouts ‘Adn Muntaha, Haril Andika, Ahmed Rassel, dan Ika Juni Astiti. Sebelum mengikuti tahap penilaian, seluruh kandidat diwajibkan melampirkan bukti prestasi atau pengabdian sebagai salah satu syarat pendaftaran.

Pada malam puncak, para finalis menampilkan kemampuan melalui beberapa tahapan penilaian. Tahapan tersebut meliputi fashion show, speech, serta sesi tanya jawab di hadapan dewan juri. Penilaian dilakukan oleh Dio Fahmi Alfaridhi, S.Pd., King PBI 2024 sekaligus alumni PBI UAD angkatan 2022, dan Arum Priadi, M.Pd.B.I., dosen PBI UAD.

King dan Queen PBI UAD 2026/2027 Resmi Terpilih

Berdasarkan hasil penilaian, Ahmed Rassel dari angkatan 2023 dinobatkan sebagai King PBI UAD 2026/2027. Sementara itu, gelar Queen PBI UAD 2026/2027 diraih oleh Ika Juni Astiti dari angkatan 2023.

 

Rassel mengaku bersyukur dan bahagia atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Menurutnya, gelar tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan diri sekaligus membawa nama baik Program Studi PBI UAD.

King dan Queen PBI UAD 2026/2027 Resmi Terpilih

“Perasaan saya bahagia. Setelah ini, saya akan fokus dulu ke akademik sebagai calon mahasiswa Fast Track. Saya akan terus semangat untuk cari prestasi dan harapannya bisa mengharumkan nama PBI juga. Saya juga berharap bisa membawa manfaat untuk Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ika Juni Astiti. Ia mengungkapkan bahwa seluruh kandidat memiliki prestasi yang membanggakan, baik di bidang akademik maupun nonakademik, dengan capaian hingga tingkat nasional dan internasional. Menurutnya, proses seleksi berlangsung kompetitif karena setiap kandidat harus menunjukkan kemampuan berbicara di depan umum dan menjawab pertanyaan dari dewan juri.

King dan Queen PBI UAD 2026/2027 Resmi Terpilih

“Saya merasa lega dan bahagia. Ini merupakan sebuah kehormatan bagi saya karena dipercaya menjadi Queen PBI 2026/2027,” ungkapnya.

Melalui ajang ini, HMPS PBI EDSA berharap King dan Queen PBI UAD dapat menjadi duta yang menginspirasi mahasiswa untuk terus berprestasi, aktif berkontribusi, serta membawa nama baik Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UAD di berbagai bidang.

Rahasia Lulus TSN HPI ala Astry Fajria, Pemegang Enam Sertifikasi HPI

Yogyakarta – Tidak banyak orang yang bisa mengklaim lulus Tes Sertifikasi Nasional (TSN) Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) hanya dalam satu kali percobaan, apalagi sampai enam kali berturut-turut dalam tiga tahun. Astry Fajria, S.S., M.Pd.B.I., Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sekaligus Sekretaris HPI Komisariat Daerah Istimewa Yogyakarta (Komda DIY), adalah salah satu dari sedikit orang itu.

Ditemui usai mendampingi Simulasi TSN HPI di Kampus IV UAD, Astry membagikan sejumlah kiat yang selama ini ia terapkan hingga selalu lolos dalam sekali percobaan (one shot). Berikut rangkumannya.

Rahasia Lulus TSN HPI ala Astry Fajria, Pemegang Enam Sertifikasi HPI

Jangan Andalkan Satu Kamus Saja

Kiat pertama dan paling mendasar: bawa lebih dari satu kamus. Pasalnya, selama ujian berlangsung, peserta sama sekali tidak diperbolehkan mengakses internet. Satu-satunya bantuan yang sah hanyalah kamus cetak, glosarium, catatan pribadi, atau referensi cetak lainnya.

“Kalau menurut saya, satu kamus saja tidak cukup. Sebaiknya membawa lebih dari satu kamus,” tegasnya.

Kuasai Ritme Kerja: Brainstorming, Draf Kasar, lalu Proofreading Berulang

Astry punya pola kerja yang konsisten ia terapkan setiap kali menghadapi tiga jam waktu ujian. Ia memulai dengan brainstorming, dilanjutkan membuat terjemahan kasar, lalu membaca ulang dan melakukan proofreading berkali-kali sampai waktu benar-benar habis.

Pola ini penting mengingat dalam satu paket ujian terdapat tiga bagian: satu soal kode etik, satu teks wajib, dan teks pilihan dengan panjang yang tidak singkat. Tanpa manajemen waktu yang baik, peserta bisa kehabisan waktu sebelum sempat menyempurnakan terjemahan.

Pahami, yang Dinilai Bukan Kreativitas, Tapi Kompetensi Dasar

Salah satu kesalahpahaman umum peserta TSN adalah berusaha menerjemahkan sekreatif atau sepuitis mungkin. Menurut Astry, justru itu bukan yang dicari penilai (reviewer/corrector).

“Yang sulit bukan soalnya, melainkan bagaimana menghasilkan terjemahan yang dapat diterima sesuai sudut pandang penilai. Yang dinilai adalah kompetensi dasar seorang penerjemah, bukan kreativitas kita,” jelasnya.

Ikuti Sosialisasi Sebelum Tes

Untuk memahami “sudut pandang penilai” itu, Astry punya triknya: rajin mengikuti sosialisasi yang diadakan HPI sebelum pelaksanaan tes. Dalam sesi tersebut biasanya dijelaskan aspek yang dinilai, contoh soal, contoh kesalahan umum, hingga tips kelulusan.

“Jadi saat mengikuti tes, saya selalu mengingat bahwa yang dinilai adalah kompetensi dasar seorang penerjemah, bukan kemampuan membuat terjemahan yang terlalu puitis atau kreatif,” ujarnya.

Jaga Fokus, Jangan Terpengaruh Suasana Ruang Ujian

Tantangan terbesar saat tes, menurut Astry, bukan datang dari soal itu sendiri, melainkan dari tekanan psikologis di dalam ruang ujian. Suara peserta lain yang mengetik cepat, misalnya, bisa memicu rasa minder. Begitu pula ketika melihat peserta lain membawa kamus yang belum kita miliki.

“Yang paling membuat saya insecure justru ketika melihat peserta lain membawa kamus yang saya belum punya,” akunya, mengenang pengalamannya saat mengikuti sertifikasi teks hukum.

Namun ia menekankan, selama peserta bisa tetap tenang dan fokus pada teksnya sendiri, ujian ini sebenarnya tidak seberat yang dibayangkan.

Terus Berlatih Menerjemahkan Berbagai Jenis Teks

Bagi Astry, kunci kelulusan sesungguhnya bukan strategi dadakan menjelang ujian, melainkan kebiasaan menerjemahkan yang sudah terbentuk jauh sebelumnya.

“Saat tes, prosesnya sama seperti simulasi, membawa kamus, mengerjakan soal, dan menerjemahkan sebagaimana saya biasa menerjemahkan berbagai jenis teks,” katanya.

Prinsip inilah yang membawanya menembus tiga kategori sertifikasi berbeda: teks umum (2022), teks hukum (2023), hingga editor terjemahan (2024). Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari konsistensi dalam belajar dan memahami pola ujian, terlebih tingkat kelulusan TSN HPI hanya sekitar 30% dari total peserta.

Rahasia Lulus TSN HPI ala Astry Fajria, Pemegang Enam Sertifikasi HPI

Baca juga: Mahasiswa PBI UAD Rasakan Dunia Industri Penerjemahan

Sertifikasi Bukan Segalanya, Tapi Layak Diperjuangkan

Meski mengantongi enam sertifikat, Astry tetap rendah hati menyebut sertifikasi bukan satu-satunya tolok ukur kualitas seorang penerjemah.

“Di luar sana juga banyak penerjemah yang belum memiliki sertifikat, tetapi sudah sangat sukses dan memiliki reputasi yang baik,” ujarnya.

Namun ia tetap meyakini nilai pentingnya: pengakuan profesional yang membuat penerjemah tak lagi mudah ditawar tarifnya, serta kredibilitas yang meningkat di mata pengguna jasa.

“Kalau sejak menjadi mahasiswa saja kita punya kesempatan untuk mengumpulkan berbagai sertifikat, apalagi sertifikasi profesi, tentu sangat saya rekomendasikan,” pungkasnya.

Yogyakarta – Kolaborasi antara Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) Komisariat Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Komda DIY), dan Akademi Translexi menghadirkan Simulasi Tes Sertifikasi Nasional (TSN) HPI untuk penerjemah. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 18 Juli 2026, di Laboratorium PPG, lantai 7 Gedung Siti Walidah, Kampus IV UAD. PBI UAD menjadi tuan rumah penyelenggaraan simulasi tersebut.

Simulasi dirancang semirip mungkin dengan pelaksanaan TSN HPI yang sesungguhnya. Seluruh peserta mengikuti alur ujian mulai dari pemeriksaan, pelaksanaan tes, hingga durasi pengerjaan selama tiga jam. Format soal juga disesuaikan dengan standar TSN HPI sehingga peserta memperoleh gambaran nyata mengenai ujian sertifikasi profesi penerjemah.

Ketua HPI Komda DIY, Andika Priadiputra, mengatakan bahwa simulasi ini bertujuan memberikan pengalaman kepada peserta sebelum mengikuti TSN HPI yang sebenarnya. Menurutnya, pengalaman tersebut penting agar peserta memahami aspek teknis maupun strategi menghadapi ujian.

Wakil Ketua Bidang I HPI

“Simulasi ini dibuat semirip mungkin dengan TSN HPI yang sesungguhnya. Mulai dari proses masuk, pemeriksaan, durasi selama tiga jam, hingga format soal semuanya disamakan. Tujuannya agar peserta tidak kaget ketika mengikuti tes resmi. Mereka sudah mengetahui apa yang harus dipersiapkan, seperti membawa kamus cetak, mengatur waktu, dan menyusun strategi selama mengerjakan soal,” ujarnya.

Andika menjelaskan bahwa TSN HPI tidak hanya menguji kemampuan menerjemahkan, tetapi juga ketahanan peserta dalam mengelola waktu. Selama ujian, peserta tidak diperkenankan menggunakan internet. Seluruh pencarian padanan istilah dilakukan menggunakan kamus atau referensi dalam bentuk cetak.

PBI UAD Jadi Tuan Rumah Simulasi Tes Sertifikasi Nasional HPI

Ia menambahkan bahwa soal yang diberikan juga menuntut konsentrasi tinggi karena berbentuk teks panjang. Dalam satu paket ujian terdapat satu soal wajib dan beberapa soal pilihan dengan panjang teks yang tidak singkat. Kondisi tersebut membuat peserta harus mampu membagi waktu secara efektif selama tiga jam pelaksanaan tes.

PBI UAD Jadi Tuan Rumah Simulasi Tes Sertifikasi Nasional HPI

Kegiatan dilanjutkan dengan pembekalan dan pembahasan soal bersama Wahyu Adi Putra Ginting, Wakil Ketua Bidang I HPI. Peserta memperoleh penjelasan mengenai pendekatan dalam menyelesaikan soal. Mereka juga mempelajari kesalahan yang umum dilakukan peserta serta strategi menghadapi TSN HPI sesuai standar penilaian yang berlaku.

Kegiatan ini diharapkan dapat membantu penerjemah mempersiapkan diri menghadapi Tes Sertifikasi Nasional (TSN) HPI. Kolaborasi HPI Komda DIY, PBI UAD, dan Akademi Translexi juga menjadi upaya untuk mendukung lahirnya penerjemah profesional.

PBI UAD Sukses Gelar My UADventure: English for Holiday 2026

Yogyakarta – Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan My UADventure: English for Holiday 2026. Program tahunan yang mengusung tema “Let’s Travel, Learn, and Speak English!” ini berlangsung pada 29 Juni–3 Juli 2026 di Laboratorium PBI Kampus 4 UAD. Kegiatan tersebut diikuti oleh 60 siswa kelas 1–6 sekolah dasar yang sedang mengisi masa liburan.

My UADventure: English for Holiday (EFH) merupakan implementasi dari mata kuliah Teaching English to Young Learners (TEYL) Program Development yang diikuti mahasiswa semester VI PBI UAD. Melalui program ini, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam merancang dan mengelola pembelajaran bahasa Inggris bagi anak-anak.

Sebanyak 60 peserta dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan nama benua, yaitu Asia Team, Australia Team, America Team, dan Europe Team. Pembelajaran dikemas secara interaktif melalui berbagai aktivitas yang mendorong peserta belajar sekaligus berlatih menggunakan bahasa Inggris dalam suasana yang menyenangkan.

PBI UAD Sukses Gelar My UADventure: English for Holiday 2026

Kepala Program Studi PBI UAD, Sucipto, M.Pd.B.I., Ph.D., menyampaikan bahwa antusiasme peserta tahun ini melampaui kapasitas yang telah disiapkan. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap program tersebut.

“Alhamdulillah, jumlah peserta EFH tahun ini melebihi kapasitas yang kami miliki. Program ini sudah kami selenggarakan sejak 2013, bahkan ketika PBI UAD masih berada di Kampus II. Dari tahun ke tahun terus ada inovasi. Selain menjadi wadah belajar yang menyenangkan bagi anak-anak, kegiatan ini juga membekali mahasiswa kami agar siap mengajar bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar. Hal itu sejalan dengan mata kuliah Teaching English to Young Learners dan kebijakan yang akan kembali mewajibkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran di sekolah,” ujarnya.

PBI UAD Sukses Gelar My UADventure: English for Holiday 2026

Ketua Pelaksana My UADventure: English for Holiday 2026, Rahmi Munfangati, S.S., M.Pd., mengatakan bahwa jumlah peserta tahun ini meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Tahun ini kami menerima 60 peserta, meningkat sekitar tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Antusiasme siswa kelas 1 hingga kelas 6 sangat luar biasa. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada para sponsor yang telah mendukung pelaksanaan My UADventure: English for Holiday 2026 selama lima hari, yaitu Pondok Buah, Pondok Baut Berbah, Ezzy Guest House, GD Home, TradAstry, dan LSBO PP Muhammadiyah,” tuturnya.

PBI UAD Sukses Gelar My UADventure: English for Holiday 2026

Salah satu orang tua peserta, Laily Amin Fajariah, turut mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, kebahagiaan anak menjadi tolok ukur utama keberhasilan program.

“Ketika saya bertanya kepada anak saya, dia mengatakan sangat bahagia mengikuti kegiatan ini. Bagi saya, itu yang paling penting. Kebahagiaan anak menjadi indikator bahwa program ini benar-benar memberikan pengalaman belajar yang positif dan menyenangkan,” ungkapnya.

Baca juga: English for Holiday: Liburan Edukatif dan Menyenangkan di Lab TEYL PBI UAD

PBI UAD Sukses Gelar My UADventure: English for Holiday 2026

Kegiatan ini menjadi bentuk komitmen PBI UAD dalam menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris yang kreatif dan menyenangkan bagi anak-anak. Di sisi lain, mahasiswa memperoleh pengalaman mengajar secara langsung sebagai bekal menghadapi dunia pendidikan.