Rahasia Lulus TSN HPI ala Astry Fajria, Pemegang Enam Sertifikasi HPI

Yogyakarta – Tidak banyak orang yang bisa mengklaim lulus Tes Sertifikasi Nasional (TSN) Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) hanya dalam satu kali percobaan, apalagi sampai enam kali berturut-turut dalam tiga tahun. Astry Fajria, S.S., M.Pd.B.I., Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sekaligus Sekretaris HPI Komisariat Daerah Istimewa Yogyakarta (Komda DIY), adalah salah satu dari sedikit orang itu.

Ditemui usai mendampingi Simulasi TSN HPI di Kampus IV UAD, Astry membagikan sejumlah kiat yang selama ini ia terapkan hingga selalu lolos dalam sekali percobaan (one shot). Berikut rangkumannya.

Rahasia Lulus TSN HPI ala Astry Fajria, Pemegang Enam Sertifikasi HPI

Jangan Andalkan Satu Kamus Saja

Kiat pertama dan paling mendasar: bawa lebih dari satu kamus. Pasalnya, selama ujian berlangsung, peserta sama sekali tidak diperbolehkan mengakses internet. Satu-satunya bantuan yang sah hanyalah kamus cetak, glosarium, catatan pribadi, atau referensi cetak lainnya.

“Kalau menurut saya, satu kamus saja tidak cukup. Sebaiknya membawa lebih dari satu kamus,” tegasnya.

Kuasai Ritme Kerja: Brainstorming, Draf Kasar, lalu Proofreading Berulang

Astry punya pola kerja yang konsisten ia terapkan setiap kali menghadapi tiga jam waktu ujian. Ia memulai dengan brainstorming, dilanjutkan membuat terjemahan kasar, lalu membaca ulang dan melakukan proofreading berkali-kali sampai waktu benar-benar habis.

Pola ini penting mengingat dalam satu paket ujian terdapat tiga bagian: satu soal kode etik, satu teks wajib, dan teks pilihan dengan panjang yang tidak singkat. Tanpa manajemen waktu yang baik, peserta bisa kehabisan waktu sebelum sempat menyempurnakan terjemahan.

Pahami, yang Dinilai Bukan Kreativitas, Tapi Kompetensi Dasar

Salah satu kesalahpahaman umum peserta TSN adalah berusaha menerjemahkan sekreatif atau sepuitis mungkin. Menurut Astry, justru itu bukan yang dicari penilai (reviewer/corrector).

“Yang sulit bukan soalnya, melainkan bagaimana menghasilkan terjemahan yang dapat diterima sesuai sudut pandang penilai. Yang dinilai adalah kompetensi dasar seorang penerjemah, bukan kreativitas kita,” jelasnya.

Ikuti Sosialisasi Sebelum Tes

Untuk memahami “sudut pandang penilai” itu, Astry punya triknya: rajin mengikuti sosialisasi yang diadakan HPI sebelum pelaksanaan tes. Dalam sesi tersebut biasanya dijelaskan aspek yang dinilai, contoh soal, contoh kesalahan umum, hingga tips kelulusan.

“Jadi saat mengikuti tes, saya selalu mengingat bahwa yang dinilai adalah kompetensi dasar seorang penerjemah, bukan kemampuan membuat terjemahan yang terlalu puitis atau kreatif,” ujarnya.

Jaga Fokus, Jangan Terpengaruh Suasana Ruang Ujian

Tantangan terbesar saat tes, menurut Astry, bukan datang dari soal itu sendiri, melainkan dari tekanan psikologis di dalam ruang ujian. Suara peserta lain yang mengetik cepat, misalnya, bisa memicu rasa minder. Begitu pula ketika melihat peserta lain membawa kamus yang belum kita miliki.

“Yang paling membuat saya insecure justru ketika melihat peserta lain membawa kamus yang saya belum punya,” akunya, mengenang pengalamannya saat mengikuti sertifikasi teks hukum.

Namun ia menekankan, selama peserta bisa tetap tenang dan fokus pada teksnya sendiri, ujian ini sebenarnya tidak seberat yang dibayangkan.

Terus Berlatih Menerjemahkan Berbagai Jenis Teks

Bagi Astry, kunci kelulusan sesungguhnya bukan strategi dadakan menjelang ujian, melainkan kebiasaan menerjemahkan yang sudah terbentuk jauh sebelumnya.

“Saat tes, prosesnya sama seperti simulasi, membawa kamus, mengerjakan soal, dan menerjemahkan sebagaimana saya biasa menerjemahkan berbagai jenis teks,” katanya.

Prinsip inilah yang membawanya menembus tiga kategori sertifikasi berbeda: teks umum (2022), teks hukum (2023), hingga editor terjemahan (2024). Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari konsistensi dalam belajar dan memahami pola ujian, terlebih tingkat kelulusan TSN HPI hanya sekitar 30% dari total peserta.

Rahasia Lulus TSN HPI ala Astry Fajria, Pemegang Enam Sertifikasi HPI

Baca juga: Mahasiswa PBI UAD Rasakan Dunia Industri Penerjemahan

Sertifikasi Bukan Segalanya, Tapi Layak Diperjuangkan

Meski mengantongi enam sertifikat, Astry tetap rendah hati menyebut sertifikasi bukan satu-satunya tolok ukur kualitas seorang penerjemah.

“Di luar sana juga banyak penerjemah yang belum memiliki sertifikat, tetapi sudah sangat sukses dan memiliki reputasi yang baik,” ujarnya.

Namun ia tetap meyakini nilai pentingnya: pengakuan profesional yang membuat penerjemah tak lagi mudah ditawar tarifnya, serta kredibilitas yang meningkat di mata pengguna jasa.

“Kalau sejak menjadi mahasiswa saja kita punya kesempatan untuk mengumpulkan berbagai sertifikat, apalagi sertifikasi profesi, tentu sangat saya rekomendasikan,” pungkasnya.