Posts

EDSA UAD Hadirkan Alumni PBI di Talk Show "Life After PBI"

Yogyakarta – English Department Student Association (EDSA) Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar talk show bersama alumni PBI UAD. Acara ini menjadi bagian dari penutupan rangkaian English Vaganza EDSA Championship (EVA ECHA) 2026. Talk show digelar setelah Closing Ceremony EVA ECHA 2026 pada Minggu (26/7) di Aula Masjid Islamic Center, Kampus 4 UAD.

Talk show mengangkat tema “Life After PBI: Unlocking Career Opportunities Through English and Communication Skills”. Pembahasan berfokus pada pentingnya kemampuan bahasa Inggris dan communication skills sebagai bekal dunia kerja. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa, calon mahasiswa baru, dan dosen PBI UAD.

Talk show ini dimoderatori oleh mahasiswi PBI UAD, Hana Pramudita Kusuma Wardani. Talk show ini menghadirkan Mohammad Anggi Nugroho sebagai pemateri. Ia merupakan alumnus PBI UAD yang kini berprofesi sebagai guru bahasa Inggris dan pembicara publik. Anggi aktif sebagai Public Speaking Coach di Diyah Adikara Speaking Class sejak 2021. Ia juga tercatat sebagai pengajar bahasa Inggris di Crystal Hospitality and Cruise Line School sejak 2019.

EDSA UAD Hadirkan Alumni PBI di Talk Show "Life After PBI"

Dalam paparannya, Anggi menceritakan pengalamannya di bidang material development. Ia turut membahas cara membangun kepercayaan diri dalam public speaking. Anggi juga membagikan pengalamannya sebagai pembawa acara atau Master of Ceremony (MC). Ia diketahui telah membawakan lebih dari 18 acara pernikahan transnasional dan sejumlah acara internasional.

Di akhir sesi, Anggi menyampaikan pesan kepada mahasiswa PBI UAD. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak membatasi diri hanya sebagai calon guru.

EDSA UAD Hadirkan Alumni PBI di Talk Show "Life After PBI"

“Pesan saya untuk mahasiswa PBI UAD, be more than just a teacher. You are all have the capability to be more,” ujar Anggi.

Baca juga: Career Talk Show: Alumni PBI Tunjukkan Kompetensi Lulusan!

Talk show ini menjadi penutup rangkaian EVA ECHA 2026 yang berlangsung sejak Juni 2026. Sebelumnya, Ketua Pelaksana EVA ECHA 2026, Fajarina Ayuning Handayani, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Kaprodi PBI UAD, Sucipto, M.Pd.B.I., Ph.D., turut menegaskan bahwa lulusan PBI UAD memiliki peluang karier di berbagai bidang. Bidang tersebut meliputi pendidikan, tourism, translation, hingga journalism.

King dan Queen PBI UAD 2026/2027 Resmi Terpilih

Yogyakarta – Ahmed Rassel dan Ika Juni Astiti terpilih sebagai King dan Queen PBI UAD 2026/2027. Keduanya diumumkan dalam Closing Ceremony English Vaganza EDSA Championship (EVA ECHA) 2026 yang diselenggarakan HMPS PBI EDSA pada Minggu (26/7). Pemilihan tersebut diikuti enam kandidat yang bersaing melalui beberapa tahapan penilaian.

Enam mahasiswa menjadi kandidat King dan Queen PBI UAD 2026/2027. Mereka adalah Faradilla Noor Insani, Hana Lin Zakiyah, Ghouts ‘Adn Muntaha, Haril Andika, Ahmed Rassel, dan Ika Juni Astiti. Sebelum mengikuti tahap penilaian, seluruh kandidat diwajibkan melampirkan bukti prestasi atau pengabdian sebagai salah satu syarat pendaftaran.

Pada malam puncak, para finalis menampilkan kemampuan melalui beberapa tahapan penilaian. Tahapan tersebut meliputi fashion show, speech, serta sesi tanya jawab di hadapan dewan juri. Penilaian dilakukan oleh Dio Fahmi Alfaridhi, S.Pd., King PBI 2024 sekaligus alumni PBI UAD angkatan 2022, dan Arum Priadi, M.Pd.B.I., dosen PBI UAD.

King dan Queen PBI UAD 2026/2027 Resmi Terpilih

Berdasarkan hasil penilaian, Ahmed Rassel dari angkatan 2023 dinobatkan sebagai King PBI UAD 2026/2027. Sementara itu, gelar Queen PBI UAD 2026/2027 diraih oleh Ika Juni Astiti dari angkatan 2023.

 

Rassel mengaku bersyukur dan bahagia atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Menurutnya, gelar tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan diri sekaligus membawa nama baik Program Studi PBI UAD.

King dan Queen PBI UAD 2026/2027 Resmi Terpilih

“Perasaan saya bahagia. Setelah ini, saya akan fokus dulu ke akademik sebagai calon mahasiswa Fast Track. Saya akan terus semangat untuk cari prestasi dan harapannya bisa mengharumkan nama PBI juga. Saya juga berharap bisa membawa manfaat untuk Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ika Juni Astiti. Ia mengungkapkan bahwa seluruh kandidat memiliki prestasi yang membanggakan, baik di bidang akademik maupun nonakademik, dengan capaian hingga tingkat nasional dan internasional. Menurutnya, proses seleksi berlangsung kompetitif karena setiap kandidat harus menunjukkan kemampuan berbicara di depan umum dan menjawab pertanyaan dari dewan juri.

King dan Queen PBI UAD 2026/2027 Resmi Terpilih

“Saya merasa lega dan bahagia. Ini merupakan sebuah kehormatan bagi saya karena dipercaya menjadi Queen PBI 2026/2027,” ungkapnya.

Melalui ajang ini, HMPS PBI EDSA berharap King dan Queen PBI UAD dapat menjadi duta yang menginspirasi mahasiswa untuk terus berprestasi, aktif berkontribusi, serta membawa nama baik Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UAD di berbagai bidang.

Rahasia Lulus TSN HPI ala Astry Fajria, Pemegang Enam Sertifikasi HPI

Yogyakarta – Tidak banyak orang yang bisa mengklaim lulus Tes Sertifikasi Nasional (TSN) Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) hanya dalam satu kali percobaan, apalagi sampai enam kali berturut-turut dalam tiga tahun. Astry Fajria, S.S., M.Pd.B.I., Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sekaligus Sekretaris HPI Komisariat Daerah Istimewa Yogyakarta (Komda DIY), adalah salah satu dari sedikit orang itu.

Ditemui usai mendampingi Simulasi TSN HPI di Kampus IV UAD, Astry membagikan sejumlah kiat yang selama ini ia terapkan hingga selalu lolos dalam sekali percobaan (one shot). Berikut rangkumannya.

Rahasia Lulus TSN HPI ala Astry Fajria, Pemegang Enam Sertifikasi HPI

Jangan Andalkan Satu Kamus Saja

Kiat pertama dan paling mendasar: bawa lebih dari satu kamus. Pasalnya, selama ujian berlangsung, peserta sama sekali tidak diperbolehkan mengakses internet. Satu-satunya bantuan yang sah hanyalah kamus cetak, glosarium, catatan pribadi, atau referensi cetak lainnya.

“Kalau menurut saya, satu kamus saja tidak cukup. Sebaiknya membawa lebih dari satu kamus,” tegasnya.

Kuasai Ritme Kerja: Brainstorming, Draf Kasar, lalu Proofreading Berulang

Astry punya pola kerja yang konsisten ia terapkan setiap kali menghadapi tiga jam waktu ujian. Ia memulai dengan brainstorming, dilanjutkan membuat terjemahan kasar, lalu membaca ulang dan melakukan proofreading berkali-kali sampai waktu benar-benar habis.

Pola ini penting mengingat dalam satu paket ujian terdapat tiga bagian: satu soal kode etik, satu teks wajib, dan teks pilihan dengan panjang yang tidak singkat. Tanpa manajemen waktu yang baik, peserta bisa kehabisan waktu sebelum sempat menyempurnakan terjemahan.

Pahami, yang Dinilai Bukan Kreativitas, Tapi Kompetensi Dasar

Salah satu kesalahpahaman umum peserta TSN adalah berusaha menerjemahkan sekreatif atau sepuitis mungkin. Menurut Astry, justru itu bukan yang dicari penilai (reviewer/corrector).

“Yang sulit bukan soalnya, melainkan bagaimana menghasilkan terjemahan yang dapat diterima sesuai sudut pandang penilai. Yang dinilai adalah kompetensi dasar seorang penerjemah, bukan kreativitas kita,” jelasnya.

Ikuti Sosialisasi Sebelum Tes

Untuk memahami “sudut pandang penilai” itu, Astry punya triknya: rajin mengikuti sosialisasi yang diadakan HPI sebelum pelaksanaan tes. Dalam sesi tersebut biasanya dijelaskan aspek yang dinilai, contoh soal, contoh kesalahan umum, hingga tips kelulusan.

“Jadi saat mengikuti tes, saya selalu mengingat bahwa yang dinilai adalah kompetensi dasar seorang penerjemah, bukan kemampuan membuat terjemahan yang terlalu puitis atau kreatif,” ujarnya.

Jaga Fokus, Jangan Terpengaruh Suasana Ruang Ujian

Tantangan terbesar saat tes, menurut Astry, bukan datang dari soal itu sendiri, melainkan dari tekanan psikologis di dalam ruang ujian. Suara peserta lain yang mengetik cepat, misalnya, bisa memicu rasa minder. Begitu pula ketika melihat peserta lain membawa kamus yang belum kita miliki.

“Yang paling membuat saya insecure justru ketika melihat peserta lain membawa kamus yang saya belum punya,” akunya, mengenang pengalamannya saat mengikuti sertifikasi teks hukum.

Namun ia menekankan, selama peserta bisa tetap tenang dan fokus pada teksnya sendiri, ujian ini sebenarnya tidak seberat yang dibayangkan.

Terus Berlatih Menerjemahkan Berbagai Jenis Teks

Bagi Astry, kunci kelulusan sesungguhnya bukan strategi dadakan menjelang ujian, melainkan kebiasaan menerjemahkan yang sudah terbentuk jauh sebelumnya.

“Saat tes, prosesnya sama seperti simulasi, membawa kamus, mengerjakan soal, dan menerjemahkan sebagaimana saya biasa menerjemahkan berbagai jenis teks,” katanya.

Prinsip inilah yang membawanya menembus tiga kategori sertifikasi berbeda: teks umum (2022), teks hukum (2023), hingga editor terjemahan (2024). Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari konsistensi dalam belajar dan memahami pola ujian, terlebih tingkat kelulusan TSN HPI hanya sekitar 30% dari total peserta.

Rahasia Lulus TSN HPI ala Astry Fajria, Pemegang Enam Sertifikasi HPI

Baca juga: Mahasiswa PBI UAD Rasakan Dunia Industri Penerjemahan

Sertifikasi Bukan Segalanya, Tapi Layak Diperjuangkan

Meski mengantongi enam sertifikat, Astry tetap rendah hati menyebut sertifikasi bukan satu-satunya tolok ukur kualitas seorang penerjemah.

“Di luar sana juga banyak penerjemah yang belum memiliki sertifikat, tetapi sudah sangat sukses dan memiliki reputasi yang baik,” ujarnya.

Namun ia tetap meyakini nilai pentingnya: pengakuan profesional yang membuat penerjemah tak lagi mudah ditawar tarifnya, serta kredibilitas yang meningkat di mata pengguna jasa.

“Kalau sejak menjadi mahasiswa saja kita punya kesempatan untuk mengumpulkan berbagai sertifikat, apalagi sertifikasi profesi, tentu sangat saya rekomendasikan,” pungkasnya.

Yogyakarta – Kolaborasi antara Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) Komisariat Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Komda DIY), dan Akademi Translexi menghadirkan Simulasi Tes Sertifikasi Nasional (TSN) HPI untuk penerjemah. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 18 Juli 2026, di Laboratorium PPG, lantai 7 Gedung Siti Walidah, Kampus IV UAD. PBI UAD menjadi tuan rumah penyelenggaraan simulasi tersebut.

Simulasi dirancang semirip mungkin dengan pelaksanaan TSN HPI yang sesungguhnya. Seluruh peserta mengikuti alur ujian mulai dari pemeriksaan, pelaksanaan tes, hingga durasi pengerjaan selama tiga jam. Format soal juga disesuaikan dengan standar TSN HPI sehingga peserta memperoleh gambaran nyata mengenai ujian sertifikasi profesi penerjemah.

Ketua HPI Komda DIY, Andika Priadiputra, mengatakan bahwa simulasi ini bertujuan memberikan pengalaman kepada peserta sebelum mengikuti TSN HPI yang sebenarnya. Menurutnya, pengalaman tersebut penting agar peserta memahami aspek teknis maupun strategi menghadapi ujian.

Wakil Ketua Bidang I HPI

“Simulasi ini dibuat semirip mungkin dengan TSN HPI yang sesungguhnya. Mulai dari proses masuk, pemeriksaan, durasi selama tiga jam, hingga format soal semuanya disamakan. Tujuannya agar peserta tidak kaget ketika mengikuti tes resmi. Mereka sudah mengetahui apa yang harus dipersiapkan, seperti membawa kamus cetak, mengatur waktu, dan menyusun strategi selama mengerjakan soal,” ujarnya.

Andika menjelaskan bahwa TSN HPI tidak hanya menguji kemampuan menerjemahkan, tetapi juga ketahanan peserta dalam mengelola waktu. Selama ujian, peserta tidak diperkenankan menggunakan internet. Seluruh pencarian padanan istilah dilakukan menggunakan kamus atau referensi dalam bentuk cetak.

PBI UAD Jadi Tuan Rumah Simulasi Tes Sertifikasi Nasional HPI

Ia menambahkan bahwa soal yang diberikan juga menuntut konsentrasi tinggi karena berbentuk teks panjang. Dalam satu paket ujian terdapat satu soal wajib dan beberapa soal pilihan dengan panjang teks yang tidak singkat. Kondisi tersebut membuat peserta harus mampu membagi waktu secara efektif selama tiga jam pelaksanaan tes.

PBI UAD Jadi Tuan Rumah Simulasi Tes Sertifikasi Nasional HPI

Kegiatan dilanjutkan dengan pembekalan dan pembahasan soal bersama Wahyu Adi Putra Ginting, Wakil Ketua Bidang I HPI. Peserta memperoleh penjelasan mengenai pendekatan dalam menyelesaikan soal. Mereka juga mempelajari kesalahan yang umum dilakukan peserta serta strategi menghadapi TSN HPI sesuai standar penilaian yang berlaku.

Kegiatan ini diharapkan dapat membantu penerjemah mempersiapkan diri menghadapi Tes Sertifikasi Nasional (TSN) HPI. Kolaborasi HPI Komda DIY, PBI UAD, dan Akademi Translexi juga menjadi upaya untuk mendukung lahirnya penerjemah profesional.

Mahasiswa PBI UAD Ikuti Bimbingan Akademik Pra-UAS Semester Genap 2025/2026

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Bimbingan Akademik Pra-UAS Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 pada Rabu, 22 Juli 2026, di Laboratorium Bahasa Lantai 7 Kampus 4 UAD. Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa angkatan 2023, 2024, dan 2025 sebagai bekal menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS).

Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pembekalan kepada mahasiswa agar lebih siap menghadapi UAS. Pembekalan tidak hanya berfokus pada kesiapan akademik, tetapi juga mencakup kesiapan mental, spiritual, dan emosional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk menyusun strategi belajar yang efektif sekaligus menjaga keseimbangan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Dalam bimbingan tersebut, Kaprodi PBI UAD Sucipto, M.Pd.B.I., Ph.D. mengajak mahasiswa mengelola waktu dengan baik selama masa persiapan UAS. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara belajar, ibadah, istirahat, dan aktivitas lainnya. Mereka perlu membagi waktu antara belajar, beribadah, beristirahat, dan aktivitas lainnya. Dengan demikian, mahasiswa dapat menghadapi ujian dalam kondisi yang optimal.

Mahasiswa PBI UAD Ikuti Bimbingan Akademik Pra-UAS Semester Genap 2025/2026

“Persiapan menghadapi UAS tidak hanya dilakukan dengan belajar lebih giat. Mahasiswa juga perlu mengelola waktu dengan baik, menentukan prioritas, serta menjaga keseimbangan antara belajar, ibadah, istirahat, dan aktivitas lainnya. Dengan hati yang tenang, setiap tantangan akan lebih mudah dihadapi,” ujar Sucipto.

Selain itu, Sucipto mengajak mahasiswa untuk selalu berikhtiar secara maksimal dan bertawakal kepada Allah dalam setiap proses yang dijalani. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai akademik yang diperoleh, tetapi juga dari terbentuknya karakter yang disiplin, bertanggung jawab, serta mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Melalui Bimbingan Akademik Pra-UAS ini, Program Studi PBI UAD berharap mahasiswa dapat mengikuti UAS dengan lebih percaya diri dan terarah. Kegiatan ini juga menjadi wujud komitmen program studi dalam mendampingi mahasiswa, tidak hanya dalam pengembangan kompetensi akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.